Beranda > Makanan > Gubuk Seafood

Gubuk Seafood

Hari itu menunjukan pukul 11.30… saya dan teman-teman sedang berputar-putar mencari tempat makan usai melakukan kegiatan yang cukup melelahkan. “Makan di ‘Mang Engking’ aja yuk?,” tawarku. “Restoran apa tuh ‘Mang Engking’?” tanya teman saya. “Pokoknya ikut aja deh dijamin mantab,” tandasku yang kemudian melakukan konvoi dua motor dengan temanku.

Beberapa saat kami tiba di kawasan Universitas Indonesia. Lalu lintas yang bersahabat siang itu membuat perjalanan kami lancar dan motorpun langsung diparkir persis di sebelah pintu masuk yang terbuat dari bambu. Di atas pintu masuk yang bertuliskan ‘Gubug Makan Mang Engking’ Spesial Udang Galah & Gurame.

Sesuai namanya yang memakai kata ‘gubug’, resto ini memang jauh dari kesan bangunan modern yang biasa ditemui pada restoran lain. Kami pun langsung menuju jembatan kayu yang dihubungkan ke sebuah gubug besar dengan sentuhan bambu dan kayu. Letaknya persis diatas empang yang penuh ikan dan menghubungkan ke gubug-gubug lainnya yang tersebar di kiri kanan.

Temanku yang baru pertama kali datang celingak-celinguk mencari sang pelayan yang tak tampak menghampiri. Kemudian, dia baru sadar kalau memanggil pelayan harus memencet bel yang terdapat di tiang bambu seperti yang saya lakukan saat itu. Meskipun terlihat praktis, namun kami harus menunggu agak lama hingga sang pelayan tiba di meja.

Di restoran Mang Engking ini jangan harap bakal menemukan menu ayam goreng, sebab menu yang ditawarkan adalah seafood khususnya udang. Udangnya sendiri terdiri atas dua jenis udang standard dan udang super yang perbedaannya terletak pada ukurannya. Selain itu terdapat menu lainnya seperti kepiting, ikan gurame dan cumi. Dimana menu seafood tersebut dapat dimasak dengan berbagai macam cara baik digoreng, dibakar madu, bakar kecap, saus tiram, saus padang, dll.

Atas rekomendasi sang pelayan, seporsi udang bakar standard madu menjadi pilihan utama. Tak ketinggalan seporsi kepiting saos padang, cah kangkung, sambal dadak serta es jeruk dan es campur ikut melengkapi makan siang kami.

Sambil menunggu pesanan datang, pikiran kami pun dibuat rileks oleh suara gemericik air serta alunan lagu Sunda yang terdengar makin menambah kental suasana pedesaan. Tampak beberapa pengunjung saung sedang asyik memberi makan ikan di empang dengan sisa-sisa makanan sampai akhirnya sang pelayan muncul kembali sambil membawa pesanan kami.

Udang bakar madu ditusuk dengan tusuk satai. Tiap tusuk empat ekor. Tampangnya mengkilap kemerahan dengan sedikit jejak gosong. Hmm… Mencium bau harumnya saja sudah membuat air liur hampir menetes…!

Saat kami mencicipi barulah terasa. Kulit udangnya sendiri cukup renyah krenyes-krenyes, sebagai tanda udang segar. Balutan bumbu cabai plus madunya cukup royal sehingga saat dikunyah terlacak rasa gurih, pedas dan manis madu.

Paduan rasa yang benar-benar menggoda! Agaknya udang digoreng sebentar sebelum dibakar sehingga terasa lebih renyah dan garing. Sementara jejak aroma bakar memberi sentuhan rasa yang spesial. Cah kangkung yang merupakan hidangan pendamping tampil tak terlalu istimewa. Rasanya standar dan tidak terlalu renyah, untunglah rasa udang mampu menutupi kekurangan cah kangkung ini. Sambal dadak yang disajikan dengan porsi kecilpun agak kecokelatan dengan rasa manis yang agak dominan, khas sambal ala Sunda.

Kepiting saos Padang pun disajikan dengan balutan saus yang tidak terlalu seronok seperti lazimnya saus Padang. Sausnya encer sedikit oranye, tidak kental seperti biasanya. Sausnya bahkan agak berminyak, mungkin karena memakai margarine untuk menumis bumbunya. Kepiting yang dipotong 4 tidak terlihat montok berisi, kami menduga ini kepiting jantan yang langsing. Tentu saja rasa dagingnya kurang nendang atau mantap, bahkan agak sulit ditelusuri karena tipis dan cenderung buyar.

Saat mengunyah daging dari capit kepiting, huahh huahh… baru terasanya pedas menggigit. Rupanya cincangan cabai yang berserakan pada saus ini benar-benar menghantam mulut. Wah, kami jadi terengah-engah kepedasan dan bersimbah peluh!

Kenyang dan puas… itulah yang kami rasakan setelah memindahkan semua hidangan ke dalam perut. Apalagi ketika membayar, kami cukup dikejutkan dengan harganya yang tak begitu mahal. Seporsi udang bakar madu dihargai Rp 35.000,00, Kepiting Saos Padang Rp 59.000,00, dan Cah Kangung Rp 6000,00.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: